Dzikir paling afdol laa ilahi iklanlah
Khutbah Jumat
A
Abdul Basit
30 April 2026
6 menit baca
0 views
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ...
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Alangkah berbahagianya hati ini ketika kita dipertemukan kembali di hari yang penuh berkah ini, hari Jumat yang mulia. Kita berkumpul, bukan karena kebetulan, tetapi atas panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala, untuk merenungi ayat-ayat-Nya dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Mari kita kembali bersihkan hati kita, sucikan jiwa kita, dari segala noda dan dosa yang mungkin telah menempel. Karena sesungguhnya, hati yang bersih adalah bekal terbaik kita menghadap Sang Maha Pencipta. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta'ala berfirman:
"أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ رَكْضًا"
(رواه البخاري ومسلم)
"Aku akan bersikap seperti prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari." (HR. Bukhari Muslim)
Subhanallah! Betapa Maha Luas Rahmat dan Kasih Sayang Allah kepada hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya. Namun, seringkali kita lalai. Ditelan kesibukan dunia, diombang-ambingkan gelombang hawa nafsu, kita lupa untuk kembali kepada-Nya. Padahal, Allah menciptakan kita bukan semata-mata untuk urusan duniawi. Ada tujuan yang lebih agung, ada perjumpaan yang lebih hakiki yang menanti kita.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Dalam kesempatan yang penuh keberkahan ini, izinkan saya mengajak kita sekalian untuk merenungi tentang dzikir. Bukan sembarang dzikir, tetapi dzikir yang paling utama, yang paling dicintai Allah, yaitu pengakuan tulus bahwa tiada Tuhan selain Allah: Laa ilaha illallah. Kalimat ini bukan sekadar untaian kata. Ia adalah fondasi keimanan, kunci gerbang surga, penyelamat dari siksa neraka, dan pengangkat derajat manusia di hadapan Rabb semesta alam.
Ingatlah firman Allah Ta'ala:
"وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ"
(Az-Zumar: 33)
"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa."
Dan sungguh, kebenaran yang paling agung adalah pengakuan akan keesaan Allah. Pengakuan bahwa hanya Dia yang berhak disembah, hanya Dia yang mampu mengabulkan doa, hanya Dia tempat kita bergantung dan berserah diri. Pernahkah kita merenung dalam sunyi malam, ketika dunia terlelap, lalu terucap dari lubuk hati yang terdalam: "Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada yang lain selain Engkau." Suara lirih itu, meski tak terdengar oleh telinga manusia, namun bergema di arsy-Nya, mengundang rahmat dan ridha-Nya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلِّمْنِي كَلِمَةً أَقُولُهَا. قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ. قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا لِرَبِّي، فَمَا لِي؟ قَالَ: قُل: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي"
(رواه مسلم)
"Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, ajari aku sebuah kalimat yang bisa aku ucapkan.' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: Laa ilaha illallah wahdahu laa syariika lahu, Allahu akbaru kabira, walhamdulillahi Katsira, Subhanallahi Rabbil ‘aalamin, Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aziizil hakiim.' Orang Badui itu berkata, 'Wahai Rasulullah, ini untuk Tuhanku, lalu apa giliranku?' Beliau bersabda, 'Ucapkanlah: Allahumma ghfir li, warhamni, wahdini, warzuqni.'" (HR. Muslim)
Lihatlah, bahkan kalimat pengakuan tauhid yang agung ini disandingkan dengan permohonan ampunan, rahmat, petunjuk, dan rezeki dari Allah. Ini menunjukkan betapa pentingnya kalimat *Laa ilaha illallah* ini. Ia adalah jembatan kita menuju segala kebaikan. Ketika lisan kita basah dengan dzikir ini, hati kita akan terisi dengan ketenangan, jiwa kita akan terbebaskan dari belenggu kesombongan dan keangkuhan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Pernahkah kita merasakan getaran kalbu saat ayat-ayat Allah dibacakan, merinding saat mendengar panggilan adzan, atau tersentuh saat menyaksikan kebesaran ciptaan-Nya? Itu semua adalah panggilan lembut dari Sang Pencipta agar kita semakin dekat. Dan cara terbaik untuk merespon-Nya adalah dengan terus menerus mengulang kalimat tauhid ini. Renungkanlah, dalam setiap hembusan nafas kita yang masih diberikan oleh-Nya, berapa kali terucap *Laa ilaha illallah*?
Dalam sebuah riwayat, ketika malaikat maut datang menjemput seorang hamba, jika lisannya terbiasa mengucap *Laa ilaha illallah*, maka kematian itu akan menjadi saksi baginya menuju surga. Betapa indahnya kematian husnul khatimah itu. Namun, sebaliknya, jika lisan kita lebih terbiasa dengan ghibah, fitnah, dusta, dan segala macam perkataan sia-sia, sulitlah bagi kita untuk mengucapkan kalimat mulia itu di akhir hayat.
"يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ"
(Ibrahim: 27)
"Allah akan memantapkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat; dan Allah akan menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki."
Ayat ini adalah janji Allah bagi orang-orang yang beriman. Dan keteguhan iman itu terwujud dalam pengucapan kalimat *Laa ilaha illallah* dengan penuh keyakinan dan keikhlasan. Ini bukan sekadar menghafal, tetapi menghayati maknanya dalam setiap denyut nadi kehidupan kita.
Bayangkanlah, wahai hadirin sekalian, betapa berat dosa-dosa yang telah kita kumpulkan. Setiap kesalahan, setiap kelalaian, setiap kedurhakaan, telah menjadi beban yang memberatkan. Di akhirat kelak, kita akan berdiri di hadapan Allah dengan buku catatan amal kita yang hitam pekat. Siapakah yang akan menolong kita? Siapakah yang akan membersihkan noda-noda itu? Hanya dengan rahmat Allah, dan rahmat itu akan turun berlimpah bagi mereka yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, yang lisannya tak pernah kering dari dzikir, terutama dzikir *Laa ilaha illallah*.
Mari kita renungkan. Di saat kita terpuruk, di saat kita merasa sendiri, ingatlah bahwa Allah selalu bersama kita. Dia mendengar segala bisikan hati, melihat segala gerak-gerik kita. Dan kalimat *Laa ilaha illallah* adalah pengingat terkuat bahwa kita tidak pernah sendirian. Selama kita mengakui keesaan-Nya, maka Dia akan senantiasa menjaga, melindungi, dan menolong kita.
Betapa banyak orang yang terjerumus dalam kesesatan, terbuai oleh gemerlap dunia, hingga lupa akan hakikat dirinya. Mereka sibuk mencari kekayaan, mencari kedudukan, mencari kesenangan sesaat, namun lupa bahwa semua itu akan fana. Yang abadi hanyalah kehidupan akhirat. Dan kunci kebahagiaan di akhirat adalah ridha Allah.
Bagaimana cara meraih ridha-Nya? Salah satunya adalah dengan senantiasa mengingatkan diri pada kalimat *Laa ilaha illallah*. Ucapkanlah ia saat terjaga, saat terlelap, saat sendiri, saat bersama, saat senang, saat susah. Jadikan ia nafas kehidupan kita.
Duhai jiwa-jiwa yang merindu surga, duhailah yang takut akan azab neraka!
Berkacalah diri. Sudahkah lisan kita menjadi alat untuk mengagungkan Allah, atau justru menjadi alat untuk mencelakai diri sendiri dan orang lain?
Sudahkah hati kita tunduk patuh kepada-Nya, atau masih terombang-ambing oleh keinginan duniawi?
Marilah kita bersungguh-sungguh menghidupkan kalimat *Laa ilaha illallah* dalam setiap aspek kehidupan kita. Jadikan ia sebagai pedoman, sebagai pengingat, sebagai sumber kekuatan. Ketika godaan datang, ingatlah *Laa ilaha illallah*. Ketika ujian datang, ingatlah *Laa ilaha illallah*.
Dan pada akhirnya, di saat ruh berpisah dari raga, semoga lidah kita terbiasa mengucapkannya dengan penuh keikhlasan, menjadi saksi kebahagiaan kita menuju taman surga yang penuh kenikmatan abadi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.